–
June 15, 2012Posted in: tips cinta
Masa
remaja dan beranjak mendekati dewasa adalah masa yang penuh energi,
penuh ambisi dan keinginan untuk menjadi beda daripada yang lain. Tidak
ada yang salah dengan hal tersebut, justru itu adalah tanda bahwa remaja
sehat secara fisik dan mental. Tiada gairah dan semangat hidup serta
bermalas-malasan justru menjadi masalah tersendiri bagi orang tua. Bagi
remaja yang penuh semangat, selalu ingin menjalin hubungan dengan banyak
orang. Rasa ingin tahunya sangat besar sekali, sehingga terkadang ia
berada di wilayah yang menyerempet bahaya. Meskipun kemungkinan dia tahu
bahwa itu berbahaya, tetap akan dilakukannya, karena semangat untuk
disebut sebagai sang pemberani dan “berbeda” dari yang lainnya.
Pada
umumnya remaja tidak bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk.
Mereka masih dalam masa transisi antara anak-anak menuju dewasa. Dimana
pemikiran yang polos mendominasi, sedangkan secara fisik ia sudah mampu
seperti orang dewasa pada umumnya. Inilah yang sering dimanfaatkan oleh
orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dengan menghembuskan isu-isu
tertentu, mereka memanfaatkan remaja untuk mencapai apa yang mereka
inginkan. Pola pikir remaja yang belum terbentuk sempurna memudahkan
mereka untuk memasukkan doktrin-doktrin yang umumnya bertentangan dengan
norma-norma yang ada. Siapakah mereka itu?
1. Bandar narkoba.
Sasaran paling mudah dari penjualan narkoba adalah anak muda, terutama
di kalangan remaja. Pemasarannya bisa menjadi viral marketing. Para
bandar ini memberikan narkoba secara gratis sekali hingga dua kali pada
remaja. Mereka umumnya membujuk dengan berdalih bahwa narkoba bisa
membuat sang remaja mendapatkan apa yang ia inginkan. Misalnya supaya
bisa konsentrasi kalau menerima pelajaran, lebih kuat dalam berolahraga,
dan lain sebagainya. Remaja yang tidak mengetahui bahwa itu narkoba
dengan mudah dapat terjerumus di dalamnya. Selain itu, mereka lalu juga
mempromosikan narkoba ini kepada teman-temannya. Jadilah geng remaja
pemakai narkoba. Remaja yang memakai narkoba ini sangat berpengaruh
kepada kehidupannya. Ketika mereka sudah tidak punya uang untuk membeli
narkoba, mereka bisa mencuri atau yang lebih mudah lagi menjadi pengecer
narkoba di kalangan mereka sendiri.
2. Geng motor.
Perlu diperjelas lagi, yang dimaksud geng motor disini adalah kumpulan
orang atau remaja yang berkumpul dalam satu perserikatan dan ciri khas
mereka adalah menggunakan sepeda motor. Geng motor berbeda dengan klub
motor. Klub motor dibentuk secara resmi dan disahkan oleh Kepolisian
Daerah setempat. Geng motor cenderung menjadi pelanggar lalu lintas,
sedangkan klub motor kegiatannya positif dan didukung oleh aparat serta
terkadang disponsori oleh ATPM atau dealer sepeda motor terkemuka di
kota tempat mereka eksis. Dengan memanfaatkan rasa ingin tahu dan
perasaan ingin berkuasa dari para remaja, orang yang mendirikan geng
motor merekrut para remaja untuk menjadi pengikut mereka. Dengan hirarki
yang ketat, sistem perpeloncoan dan doktrin yang kuat, mereka berhasil
mencuci otak para remaja supaya mengikuti kemauan mereka. Selain itu
mereka juga menghembuskan kebanggan semu kepada mereka bahwa menjadi
geng motor itu keren.
3. Teroris laknat.
Jika geng motor itu adalah fanatik golongan kiri, maka teroris adalah
fanatik golongan kanan. Dengan alasan perintah agama, orang-orang ini
tidak segan-segan melukai orang lain yang meskipun seagama namun tidak
sepaham dengan mereka. Bahkan untuk membunuh orang-orang yang menurutnya
boleh dibunuh, mereka mengorbankan saudara mereka yang seagama. Mereka
menyebutnya korban tambahan karena orang-orang itu sama berdosanya
karena berdekatan dengan orang-orang yang menurut mereka kafir. Gembong
teroris ini pada umumnya merekrut remaja yang masih labil pemikirannya
untuk dijadikan martir. Remaja-remaja ini dicuci otaknya, diberikan
janji-janji surga dan lain sebagainya, hingga mereka mau menyerahkan
nyawanya hanya untuk melukai orang lain.
Maka
dari itu para orangtua harus waspada pada tiga hal diatas. Orang tua
sebagai penanggung jawab remaja harus bisa menjadi sahabat mereka.
Menjadi orang yang lebih tinggi dari remaja hanya akan membawa remaja
itu jauh daripada orang tua. Selain itu orangtua juga harus bisa menjadi
panutan yang baik, sehingga anak remaja tidak mencari figur lain
sebagai panutan. Selamat berjuang!